Penyerapan BULOG Jabar Terus Bergulir Selama Ramadhan, Stok sangat aman. Warga diminta tidak “Panic Buying”
(Gudang Beras D3i Bulog Jabar)
BANDUNG - interaksinews.com - Pada era kepemimpinan Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia 2024-2029, pemerintah menetapkan satu di antara beberapa misi prioritas, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan.
Sebagai korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sangat berkepentingan mengakselerasi sekaligus menyukseskan misi pemerintah tersebut.
Caranya, terus memperkuat ketersediaan pangan, khususnya, komoditas beras. Tidak heran, agar stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tetap perkasa, Perum Bulog tetap mengagresifkan penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani di berbagai wilayah, termasuk Jabar.
Lalu, seperti apa pencapaiannya di Jabar?
Nurman Susilo, Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Jabar, menegaskan, pihaknya tidak mengurangi agresivitas penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani selama Ramadan 2026.
Nurman Susilo mengatakan, penyerapan dan pengadaan selama Ramadan 2026 tersebut termasuk upaya untuk memperkuat CBP.
Selain itu, sambungnya, juga sebagai cara untuk merealisasikan target nasional penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani pada tahun ini, yakni sebanyak 4.5 juta ton.
“Khusus Jabar, targetnya 1.012 ton, GKP (Gabah Kering Panen) atau 694.432 ton setara beras.” tandasnya.
Seiring dengan terus berlangsungnya proses pengadaan dan penyerapan beras atau gabah kering setara beras petani selama Ramadan 2026, Nurman Susilo membeberkan, publik Jabar tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan beras.
Pasalnya, klaim Nurman Susilo, saat ini, pihaknya mengelola CBP yang berlimpah. Volumenya, sebut dia, sekitar 592 ribu ton.
“In Syaa Allah, stok beras Jabar aman dan bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat selama beberapa bulan mendatang,” kata Nurman Susilo.
Nurman Susilo meneruskan, tetap agresifnya penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani ini juga merupakan kiat jajarannya demi terciptanya stabilitas harga pada level petani.
Caranya, jelas dia, melalui pembelian GKP, yang nominalnya sesuai ketetapan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilo gram
Nurman Susilo optimistis bahwa pihaknya bisa merealisasikan target pengadaan dan penyerapan beras atau gabah kering setara beras yang dicanangkan pemerintah kepada jajarannya hingga akhir 2026.
Indikatornya, sahut dia, perbandingan realisasi pengadaan dan penyerapan beras atau gabah kering setara beras antara 2025 dan tahun ini.
Tahun lalu, ungkap dia, hingga memasuki pekan kedua Maret 2026, volume penyerapannya 32.086 ton. “Tahun ini mencapai 130 ribu ton,” ujar dia.
Akan tetapi, Nurman Susilo mengatakan, pencapaian positif sulit tercapai apabila tidak ada sinergi yang kuat dan harmonis dengan seluruh stakeholder.
Yaitu, sebut dia, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kota-kabupaten. Lalu, lanjutnya, jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
“Kemudian, tambah dia, para penyuluh pertanian, termasuk para mitra pengadaan dan penggilingan serta kelompok tani,” pungkas Nurman Susilo.***
Komentar
Posting Komentar