KAB. BANDUNG - InteraksiNews.com - Ambruknya sebagian plafon di Gedung B RSUD Bedas Pacira memicu sorotan serius terhadap kualitas pembangunan rumah sakit yang tergolong baru tersebut.
Peristiwa itu dilaporkan terjadi pada Selasa dini hari, 17 Maret 2026, sekitar pukul 04.00 WIB. Plafon di area selasar lantai atas mendadak runtuh dan materialnya jatuh ke lantai. Beruntung saat kejadian area tersebut relatif sepi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka.
Namun insiden ini langsung menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya, RSUD Pacira merupakan fasilitas kesehatan yang belum lama dioperasikan dan dibangun dengan anggaran besar dari pemerintah daerah. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya persoalan pada kualitas konstruksi maupun pengawasan proyek.
Sejumlah sumber menyebutkan, sebelum plafon ambruk sempat terjadi kebocoran pada bagian atap yang menyebabkan air merembes ke material plafon berbahan gypsum. Jika benar demikian, hal itu dinilai menunjukkan lemahnya perencanaan teknis maupun kontrol kualitas pekerjaan konstruksi.
Pengamat konstruksi menilai, bangunan fasilitas publik seperti rumah sakit seharusnya memiliki standar keamanan lebih tinggi, termasuk penggunaan material yang tahan terhadap kelembapan serta sistem drainase atap yang baik. Jika material plafon mudah rusak akibat rembesan air, maka spesifikasi teknis proyek patut dipertanyakan.
Di sisi lain, kalangan legislatif daerah juga mulai menyoroti kejadian tersebut. Mereka meminta pemerintah daerah melakukan audit teknis terhadap proyek pembangunan rumah sakit itu, termasuk menelusuri apakah pekerjaan konstruksi telah sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen perencanaan.
Insiden ini juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang aman bagi pasien dan tenaga medis. Jika pada tahap awal operasional saja sudah terjadi kerusakan bangunan, maka evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan dinilai menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Pihak manajemen rumah sakit dilaporkan telah mengamankan area yang terdampak dan melakukan langkah perbaikan sementara. Meski demikian, publik berharap pemerintah daerah tidak berhenti pada perbaikan fisik semata, melainkan juga melakukan penelusuran mendalam terhadap kualitas proyek secara keseluruhan.
Kasus plafon ambruk di RSUD Pacira kini menjadi perhatian serius. Selain menyangkut keselamatan pasien, kejadian ini juga membuka ruang pertanyaan lebih luas: apakah pembangunan fasilitas publik bernilai miliaran rupiah benar-benar dikerjakan sesuai standar, atau justru menyimpan persoalan yang selama ini luput dari pengawasan.***
Komentar
Posting Komentar