Meja Bundar Lopo Khalipah Dan Lahirnya Kota Padangsidimpuan


Padangsidimpuan - InteraksiNews  - Sejarah berdirinya Kota Padangsidimpuan tidak hanya tercatat dalam lembaran resmi negara, tetapi juga terpatri dalam ruang-ruang sederhana yang sarat makna. 

Dari sudut persimpangan yang riuh oleh deru kendaraan dan aroma kopi di kawasan Simpang IKIP Padangsidimpuan, sebuah takdir politik pernah dirumuskan.

Jauh sebelum dokumen resmi negara bernomor Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2001 disahkan, “kota salak” ini sejatinya telah lebih dahulu lahir dari kepulan asap rokok dan diskusi panjang di sebuah lopo—warung kopi khas Mandailing yang menjadi ruang perjumpaan gagasan.

Di Lopo Khalipah, para tokoh berkumpul dalam format “meja bundar”. Nama-nama seperti almarhum Amiruddin, Mustafa Ramadhan Siregar, dan Adnan Buyung Lubis duduk melingkar, bukan sekadar menikmati kopi kental, tetapi merajut visi tentang masa depan sebuah wilayah yang ingin melepaskan diri dari Kabupaten Tapanuli Selatan.

Pertemuan-pertemuan itu bukanlah obrolan biasa. Di tengah keterbatasan ruang formal, lopo menjelma menjadi “parlemen jalanan” — tempat aspirasi dirumuskan secara jujur, terbuka, dan penuh semangat otonomi.

Jejak sejarah yang nyaris tertimbun waktu ini kemudian diangkat kembali oleh Zulkifli Lubis, yang akrab disapa Mamak Utom. Melalui penelusurannya, ia mengungkap bahwa di meja bundar Lopo Khalipah itulah masukan-masukan penting disampaikan kepada Zulkarnaen Nasution.

Di ruang sederhana itulah para tokoh merumuskan visi dan arah masa depan Padangsidimpuan. Gagasan yang lahir dari Simpang IKIP perlahan bertransformasi menjadi naskah akademik, lalu bermuara pada pengakuan resmi negara melalui pembentukan Pemerintah Kota Padangsidimpuan.

Bagi masyarakat Padangsidimpuan, catatan Mamak Utom bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa kota ini tidak lahir dari ruang hampa atau semata-mata keputusan administratif, melainkan dari dialektika gagasan, semangat kolektif, dan keberanian para tokoh lokal yang memperjuangkan otonomi.

Kota ini lahir dari meja bundar sebuah warung kopi—tempat di mana mandat rakyat benar-benar bermula. (Jc)

Komentar