Tapanuli Selatan – Interaksi News - Distribusi pupuk bersubsidi kembali mencuat. Kali ini, LSM Trisakti mengungkap dugaan praktik kios fiktif dan penyaluran ilegal di Desa Sinyior Kecamatan Angkola Selatan yang berpotensi merusak sistem subsidi pemerintah.
Hasil investigasi lapangan menunjukkan fakta mencolok diketahui penerima pupuk bersubsidi di desa tersebut diduga bukan kios resmi, melainkan hanya “meminjam nama” UD Tani Berkah sebagai kedok administratif. Praktik ini mengindikasikan adanya manipulasi dalam rantai distribusi pupuk bersubsidi.
Lebih mengejutkan, berdasarkan keterangan dari pihak lapangan PT BBM selaku distributor, tercatat penyaluran pupuk bersubsidi sebanyak 6 ton ke Desa Sinyior. Namun, pupuk tersebut tidak diturunkan di gudang kios resmi, melainkan dibongkar di rumah warga.
Fakta ini menampar logika distribusi resmi. Dalam sistem yang diatur negara, pupuk bersubsidi wajib disalurkan melalui kios resmi yang memiliki gudang dan aktivitas usaha nyata. Penurunan barang di rumah warga tanpa status sebagai kios resmi membuka dugaan kuat adanya distribusi ilegal, pengaburan data, hingga potensi penyimpangan subsidi negara.
“Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini indikasi permainan dalam distribusi pupuk bersubsidi. Kalau benar kiosnya tidak ada dan hanya pinjam nama, lalu 6 ton pupuk itu sebenarnya dikendalikan siapa?” tegas Divisi Monitoring Trisakti Elvan.
Kasus ini juga menyeret tanggung jawab distributor. Bagaimana mungkin pupuk dalam jumlah besar bisa disalurkan ke lokasi yang tidak memenuhi syarat sebagai titik distribusi resmi? Di mana fungsi verifikasi dan pengawasan?
Desakan kini mengarah ke PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk segera turun tangan. Tanpa langkah tegas, praktik seperti ini dikhawatirkan bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari pola yang lebih besar dalam penyimpangan pupuk bersubsidi.
Elvan memintta dilakukan audit menyeluruh terhadap distribusi di wilayah tersebut, hingga penelusuran alur 6 ton pupuk yang telah disalurkan
Penindakan terhadap distributor dan pihak yang diduga bermain.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait. Sementara itu, publik menunggu: apakah ini akan dibongkar tuntas, atau kembali senyap seperti kasus-kasus sebelumnya. (Jc)
Komentar
Posting Komentar