Buzzer Tambang Emas Ilegal di Madina Gencar Menyerang Wartawan, Desakan Penertiban PETI Kian Menguat
Mandailing Natal – Aktivitas para pendukung pertambangan emas tanpa izin (PETI) di media sosial belakangan ini semakin menjadi sorotan. Sejumlah wartawan yang selama ini aktif memberitakan dugaan maraknya aktivitas tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, mengaku kerap menjadi sasaran serangan melalui kolom komentar Facebook, pesan Messenger, tiktok hingga WhatsApp.
Namun demikian, tekanan dan serangan yang dilakukan para buzzer tersebut justru tidak menyurutkan semangat para jurnalis untuk terus mengungkap berbagai persoalan terkait aktivitas PETI yang dinilai telah lama merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
“Semakin banyak buzzer yang menyerang, justru semakin terlihat bahwa pihak-pihak yang selama ini diuntungkan dari aktivitas tambang ilegal mulai terusik. Kami akan tetap menjalankan tugas jurnalistik sesuai fakta di lapangan,” ujar salah seorang wartawan yang meminta identitasnya tidak disebutkan, Rabu (25/6/2026).
Menurutnya, kemunculan buzzer yang secara masif membela aktivitas tambang ilegal menunjukkan adanya kepentingan tertentu yang sedang terancam. Berbagai komentar bernada menyerang hingga pesan pribadi yang ditujukan kepada wartawan dinilai sebagai bentuk upaya untuk mengintimidasi agar pemberitaan mengenai PETI dihentikan.
Di sisi lain, desakan masyarakat agar aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap aktivitas PETI terus menguat. Warga di sejumlah wilayah, termasuk di Kelurahan Panabari Kecamatan Tano Tombangan Angkola Kabupaten Tapanuli Selatan, disebut telah berulang kali menyampaikan keberatan terhadap aktivitas tambang ilegal yang berpotensi merusak lingkungan dan daerah aliran sungai.
“Sebagai daerah yang menjunjung adat istiadat, kami sangat kecewa karena aktivitas tambang ilegal masih terus berlangsung. Masyarakat, tokoh adat, hingga berbagai elemen warga sudah menyuarakan agar PETI ditertibkan,” kata seorang warga.
Warga menilai keberadaan tambang emas ilegal tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial di tengah masyarakat. Karena itu, mereka berharap aparat penegak hukum tidak lagi menutup mata terhadap berbagai laporan dan keluhan yang selama ini disampaikan masyarakat.
Sementara itu, berbagai pemberitaan mengenai aktivitas PETI di wilayah Mandailing Natal maupun Tapanuli Selatan terus menjadi perhatian publik. Di tengah meningkatnya sorotan tersebut, para wartawan mengaku akan tetap menjalankan fungsi kontrol sosial dan pengawasan terhadap berbagai aktivitas yang diduga melanggar hukum.
“Pers tidak boleh tunduk pada intimidasi. Kritik dan komentar adalah hal biasa, tetapi upaya menyerang wartawan secara pribadi hanya akan memperkuat dugaan bahwa ada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan terungkapnya fakta-fakta di lapangan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas PETI di sejumlah wilayah Kabupaten Mandailing Natal dan melalui Kabupaten Tapanuli Selatan masih menjadi perhatian masyarakat yang berharap adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum guna menghentikan praktik pertambangan ilegal yang dinilai telah merusak lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat sekitar. (Jc)
Komentar
Posting Komentar