Pemilihan APDESI Kabupaten Bandung Merupakan Ajang Demokrasi, Keberanian, dan Harapan Kesejahteraan



KAB. BANDUNG - interaksinews.com  - Pemilihan Ketua Asosiasi Pemerintah Desa (APDESI) yang akan dilaksanakan pada 7 November 2027 merupakan momen bersejarah yang sangat dinantikan. Ajang ini bukan sekadar pergantian pimpinan organisasi, melainkan ujian sekaligus bukti kematangan demokrasi di tingkat pemerintahan desa. Proses ini menjadi penanda bahwa organisasi yang menaungi kepala desa mampu tumbuh dewasa dengan mengedepankan asas kebebasan, keadilan, dan kedaulatan suara anggotanya.
 
DUA KANDIDAT, DUA LATAR BELAKANG.

Pemilihan kali ini menghadirkan pertarungan yang penuh makna dan berimbang antara dua sosok dengan latar belakang yang berbeda:
Calon Pertama Ismawanto Somantri, S.H., S.IP. 
Datang dari kalangan Kepala Desa biasa.
Ismawanto Somantri, S.H., S.IP., yang menjabat sebagai Kepala Desa Tenjolaya dua periode, beliau datang dari kalangan Kepala Desa biasa, yang tumbuh dan berjuang bersama masyarakat di lapangan. Beliau tidak berasal dari lingkaran keluarga  kekuasaan yang sudah mapan, melainkan lahir dari proses perjuangan yang sederhana berjuang tulus sehingga akhirnya terpilih menjadi Kepala Desa. 

Saat ini, beliau juga tengah menempuh pendidikan S2 Magister Ilmu Hukum di Universitas Pasundan Bandung, menunjukkan semangat yang tak pernah padam untuk terus belajar dan memperdalam pengetahuan guna melayani masyarakat dengan lebih baik.
Yang patut diapresiasi dari sosok ini adalah keberaniannya berdiri di depan  mencalonkan Ketua Apdesi untuk  memperjuangkan agar pemilihan ini dilaksanakan secara murni dan demokratis.

Keberanian ini bukan hal yang sepele. Di tengah kebiasaan dan pola pikir yang kadang masih terikat pada kesepakatan sepihak, keberanian menyuarakan kebenaran dan menuntut proses yang jujur adalah langkah yang mulia, beliau percaya bahwa hak memilih adalah hak setiap anggota, dan pimpinan yang lahir dari suara yang bebas akan lebih kuat, lebih dipercaya, dan lebih mampu memperjuangkan aspirasi seluruh kepala desa.
Dengan selogan "Apdesi Kudu Nangtung Ker Ngawangun Kabupaten Bandung"
Jangan takut kalah untuk berjuang, kekalahan merupakan sebuah resiko dalam pertarungan.
 
Calon Kedua H. Galih Hendrawan, S.IP., MM. Beliau  lahir lingkungan keluarga yang cukup mapan.

H. Galih Hendrawan, S.IP., MM., saat ini sebagai  Kepala Desa Tegaluar yang baru saja meraih gelar Magister Manajemen dari IKOPIN, sebuah pencapaian akademik yang membuktikan komitmen beliau terhadap peningkatan kualitas keilmuan dan manajemen pemerintahan. Beliau juga merupakan putra yang lahir  dari keluarga Bupati Bandung yang sedang menjabat pada saat ini.

Latar belakang ini memberikan kelebihan dalam hal pemahaman terhadap sistem pemerintahan, pengalaman kebijakan, serta jaringan kerja yang luas. Beliau membawa harapan akan keberlanjutan program-program yang sudah berjalan dan kestabilan hubungan antar-instansi.
 
MAKNA  PERBEDAAN DAN PILIHAN YANG BIJAK.

Kehadiran kedua sosok ini menghadirkan pilihan yang jelas sekaligus berharga. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing yang patut dipertimbangkan secara objektif oleh seluruh anggota APDESI.

Keberanian Ismawanto Somantri dalam memperjuangkan pelaksanaan pemilihan yang demokratis mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan diperjuangkan oleh orang-orang yang berani menegakkan kebenaran. Semangat belajar yang terus dijaganya juga menjadi bekal berharga dalam menyusun kebijakan yang berlandaskan hukum dan keadilan. Pemimpin yang lahir dari keinginan kuat akan demokrasi, biasanya akan lebih menghargai suara anggotanya dan lebih terbuka terhadap aspirasi yang datang dari bawah.

Di sisi lain, latar belakang pendidikan manajemen dan pengalaman di lingkungan pemerintahan yang dimiliki H. Galih Hendrawan juga memiliki nilai tersendiri, yaitu kesiapan dalam memahami tata kelola organisasi yang baik serta kemampuan mempercepat koordinasi dan kerja sama antar-pihak terkait.

Namun pada akhirnya, ukuran kebaikan seorang pemimpin bukanlah dari mana ia berasal atau seberapa tinggi gelarnya, melainkan,
Apakah ia menghargai suara semua anggota?
Apakah visi dan misinya adil untuk semua desa?
Apakah ia memimpin dengan ketulusan hati untuk melayani, bukan untuk dilayani?

Apakah ia menghargai suara semua anggota?
 
Harapan para Kepala Desa,
Ketua APDESI yang terpilih kelak tidak hanya mendengarkan suara-suara yang sejalan dengan dirinya, tetapi juga menghargai pandangan yang berbeda. Seorang pemimpin sejati harus menyadari bahwa setiap Kepala Desa memiliki tantangan, kondisi, dan aspirasi yang beragam di wilayahnya masing-masing.
 
Kepala Desa dari desa kecil maupun besar, dari yang dekat maupun yang jauh, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Pemimpin yang baik akan membuka ruang dialog yang luas, tidak memutus jalur komunikasi, dan menjadikan masukan dari anggota sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.

Tentunya para Kepala Desa
menginginkan visi dan misi yang merata, tidak memihak pada desa-desa tertentu saja. Kemajuan tidak boleh hanya dirasakan oleh desa yang berdekatan dengan pusat kekuasaan atau desa yang memiliki hubungan khusus dengan pimpinan. Setiap desa, terlepas dari luas wilayah, jumlah penduduk, maupun latar belakang sosialnya, berhak mendapatkan perhatian, dukungan, dan pembinaan yang setara.

Mendapatkan Keadilan sebagai fondasi utama. Program kerja yang disusun harus menjawab kebutuhan seluruh desa, bukan sekadar menonjolkan pencapaian di beberapa desa tertentu saja. Kesempatan berpartisipasi dalam pelatihan, pendampingan, serta akses informasi dan kemitraan harus terbuka luas secara adil bagi setiap Kepala Desa yang membawahi desanya.
Siapapun yang memimpin, semoga dengan ketulusan hati untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Disisi lain,.memilih seseorang pemimpin bukan agar ia menjadi "penguasa" di antara sesama Kepala Desa, melainkan agar ia menjadi pelayan dan pelindung kepentingan bersama. Gelar dan kedudukan bukan untuk diagungkan, melainkan dijadikan sarana mempermudah memperjuangkan kepentingan masyarakat di tingkat paling bawah  yaitu desa.

Ungkapan hal di atas bukanlah tuntutan yang berlebihan, melainkan hak mendasar yang patut kita perjuangkan bersama. Siapapun nanti yang terpilih menjadi Ketua APDESI, semoga mampu menjawab semua harapan dengan kerja nyata.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang Ketua APDESI bukan diukur dari seberapa tinggi kedudukannya atau seberapa luas jaringannya, melainkan dari seberapa banyak Kepala Desa yang merasa didukung, diperlakukan adil, dan dibantu dalam menjalankan tugas mulia melayani rakyat di desanya.
Semoga proses pemilihan pada 6 November 2027 ini melahirkan pemimpin yang mampu menjawab harapan kita semua. (Ajum)

Komentar